Jejak Langkah Kami...

Kamis, 13 November 2008

10 Amanat Anak kepada Bunda dan Ayah

Dapet forward imel dari temen, isinya seperti di bawah ini:
1. Tanganku kecil, tolong jangan menilai terlalu sempurna saat aku sedang membereskan tempat tidurku, menggambar atau melempar bola. Kakiku masih pendek, tolong jangan terlalu cepat kalau berjalan agar aku dapat berjalan bersama Bunda dan Ayah.

2. Mataku tidak seperti Bunda dan Ayah. Aku belum melihat semua hal di dunia ini, beri aku kesempatan untuk dapat menjelajahi dunia dengan aman dan jangan larang aku kalau tidak perlu sekali.

3. Aku tahu ada banyak pekerjaan di rumah dan di kantor yang harus Bunda dan Ayah kerjakan. Aku tidak akan lama menjadi anak kecil, tolong beri aku waktu dan perhatian untuk menjelaskan tentang dunia yang indah dan lakukanlah sepenuh hati.

4. Perasaanku lembut. Perlakukanlah aku sebagaimana Bunda dan Ayah ingin diperlakukan oleh orang lain. Jangan marah padaku sepanjang hari. Aku ingin Bunda dan Ayah sensitif dengan kebutuhanku.

5. Aku adalah hadiah dari Allah SWT untuk Bunda dan Ayah. Perlakukanlah aku sesuai kehendak Allah SWT. Arahkan, bimbing dan siapkanlah diriku untuk dapat menghadapi masa depanku yang tidak sama dengan zaman Bunda dan Ayah. Berilah aku aturan, penghargaan dan konsekuensi (bukan hukuman yang tanpa penjelasan yang membuat aku dendam) atas perbuatanku yang salah sehingga aku mengerti mana yang benar dan salah.

6. Aku membutuhkan dukungan dan dorongan Bunda serta Ayah untuk tumbuh dan berkembang optimal, bukan hanya kritikan. Bunda dan Ayah dapat mengkritik perbuatanku tanpa harus membenci aku.

7. Beri aku kesempatan berlatih mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Ijinkan aku untuk mengalami kegagalan atau berbuat kesalahan sehingga aku dapat belajar dari hal itu. Bantu aku untuk mengatasi kegagalan dan memperbaiki kesalahan sehingga di masa depan aku sudah siap mengambil keputusan yang tepat untuk hidupku.

8. Jangan lakukan semuanya untukku karena aku akan merasa bahwa apa yang aku lakukan tidak memenuhi standar atau harapan Bunda dan Ayah. Tolong jangan bandingkan aku dengan anak lain atau dengan saudara kandungku. Aku tahu ini memang berat bagi Bunda dan Ayah.

9. Jangan takut meninggalkan aku jika memang Bunda dan Ayah perlu pergi berdua. Anak-anak juga butuh liburan tanpa Bunda dan Ayah, sama seperti Bunda dan Ayah yang membutuhkan liburan tanpa anak-anaknya.

10. Bawalah aku ke masjid secara rutin, berikanlah aku contoh bagaimana menjadi muslim yang baik. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Allah SWT dan Rasul-Nya.
Sambil baca imel ini, tiba-tiba mata saya basah... I can't hold my tears from falling...

Senin, 10 November 2008

Weekly Project Nisa

Hampir tiap weekend, ada aja project yang dibawa Nisa dari sekolahnya, untuk dikumpulkan beberapa hari ke depan. Kali ini project untuk pelajaran IPS, masing-masing murid diminta untuk membuat denah/peta 3 dimensi dari rumah menuju ke sekolah. Untuk menyelesaikan project ini, boleh kerjakan bersama orangtua. Nah, berhubung rumah Nisa cukup jauh dari sekolah, lumayan bingung nih untuk menuangkan rute dari rumah ke sekolah.... Emmm... sebenernya sehari sebelumnya, saya dan nisa sudah membuat denahnya, dari kertas asturo warna-warni yang kita bentuk jadi rumah, pohon, jalan.. udah jadi sih.. tapi kata Ayah gini: "pekerjaannya gak pake perencanaan...". Yaaaa... cape dehhhh.......

Trus hari Minggu kemaren, saya berdua Ayah Nisa ke Serpong (lagi), mau beli beberapa bahan buat ngerjain pesenan kue dari temen. Nggak taunya si Ayah malah ke tempat hiasan-hiasan yang buat kue tart... hehehe... ternyata blio mencari pohon-pohon plastik, trus mobil-mobilan, trus nanya-nanya alas buat kue tart.. Tau gak buat apa? Buat projectnya Nisa... hihihi...

Dari toko bahan kue, dapetlah beberapa kantong pohon-pohonan dari plastik dan alas kue tart. Mobil-mobilannya gak jadi, kayanya kegedean. Tujuan selanjutnya adalah... TOYS CITY di Bintaro Plaza. Mau nyari rumah-rumahan, mobil-mobilan dan orang-orangan yang kecil-kecil, pokoknya perlengkapan buat ngerjain PRnya Nisa (lho.. yang heboh kok malah orangtuanya... Nisanya malah anteng-anteng aja... hehehe). Ternyata kita cuma dapet mobil-mobilan aja, yang lain yang dapet... Abis itu kita ke Gramedia, mau nyari plastisin (itu lho, lilin mainan yang kaya playdough..). Niat awalnya mau bikin rumah-rumahan dan orang-orangan dari plastisin aja.. oya, sama buat nempelin pohon juga ding. Gak taunya di sana malah nemu sejenis styrofoam yang tipis.. buat alas kayanya cocok. Setelah perlengkapan perangnya komplit, pulanglah kita dan segera berkarya.

Dan setelah beberapa jam berkutat dengan alat-alat dan perlengkapan perang, inilah persembahan dari kami... Jreng...jrenggggg.......

Sumbangan Nisa untuk project kali ini: Menuliskan judulnya... hehehehe....


Berangkat ke sekolah pake mobil merah... ngenggg... ngengggg... brmm... brmmm..

Ke sekolah lewat bank Niaga dan Lapangan Golf nihhh...
Lapangan golfnya dari plastisin yang ditempelin segala biji-bijian dan lemari dapur
Yang kuning: kacang ijo kupas; item: kedele item; biru: trimit buatan hiasan kue (nisa milihin satu-satu tuh, ngumpulin yang warna biru...)
Bangunannya dari kardus yang ditempelin kertas origami


Bikin tamannya dari kedele item dan kacang ijo...

Dan inilah project lengkapnya....


Selasa, 04 November 2008

My Experiment..

Preambule: Threat kali ini adalah titipan Nisa, semua ditulis sendiri oleh sang peneliti.. kemudian saya copy paste kan di sini.

Kali ini aku nyoba percobaan baru, namanya percobaan “melihat bunga minum”. Jadi kita membutuhkan :

· pewarna makanan (apa ajalah, yang penting berwarna)
· Gelas kaca bening
· Satu tangkai bunga berwarna putih.

Caranya:
masukan setengah gelas air kedalam gelas kaca, campur pewarna makanan dengan warna yang kamu suka. Aduk sampai merata. Potong akar bunga, ( kau perlu potong lebih pendek lagi tapi jangan terlalu pendek) lalu masukan bunga kedalam pewarna makanan tadi. Tunggu sampai bunga itu berubah menjadi warna pewarna makanan tadi. Kurang lebih 2 hari 2 malam.

Aku membuat dengan warna biru. Tapi yang aku buat ini baru kelihatan bercak-bercak biru. Aku dapat ide itu dari sebuah buku. Sebenarnya sih masih ada percobaan yang lain, tapi percoban itu yang paling gampang dari yang lain.

Ini dia foto percobaan "Melihat Bunga Minum" bY NiSA

Bunganya baru aja dimasukkan ke dalam cairan berwarna biru

Setelah 2 jam, mulai ada bercak-bercak biru pada kelopak bunga


Kondisi setelah bunga direndam semalaman dalam cairan berwarna biru, bercak biru semakin banyak

Note: Sampai hari ini, percobaan belum berakhir.. bunga masih direndam dalam cairan biru, untuk diamati perubahannya dari hari ke hari...

Nisa dan Uang 100 ribu

Sebenernya ini cerita udah lama, pas kami liburan lebaran di Solo bulan lalu.Sehari sebelum balik ke Jakarta, saya harus berkeliling ke beberapa tempat untuk membeli oleh-oleh.. dan Nisa tuh paling gak suka dengan ritual ini.. capek katanya. Dia lebih memilih untuk pergi ke Time Zone aja dengan tante Ninik.OKe, no problem.. Jadilah kami masing-masing punya acara sendiri-sendiri. Awalnya Nisa saya bekali uang 50ribu, buat isi kartu timezone. Tapi kemudian Ayahnya ngingetin saya untuk nambahin uangnya buat kalau-kalau mereka pengen beli-beli makanan atau apalah... Akhirnya ditambahlah uangnya jadi 100 ribu, dengan pesan: buat ke timezone sama traktir tante Ninik ya...Singkat cerita, pas kami udah sama-sama pulang, saya tanya Nisa:
Ibu : Gimana, seneng ke timezone?
Nisa : Iya, tadi seru banget. Aku dapet hadiah banyak. Nih liat.. (sambil ngeluarin hadiah yang dia dapet dari timezone)
Ibu : Wah, hebat dong... Trus tadi makan gak?
Nisa : Iya, di Pizza Hut
Ibu : Emang uang Nisa cukup?
Nisa : Kan ditraktir sama tante Ninik
Ibu : Lho.. kok bukan Nisa yang traktir? Uang Nisa masih sisa berapa?
Nisa : Abis
Ibu : Kok abis? Buat beli apa aja? (mulai curiga deh... soalnya pulang dari timezone nisa cuma bawa hadiah-hadiah aja)
Nisa : Buat main di timezone (jawabnya nyante banget... tanpa rasa bersalah...)Ibu : Semua????
Nisa : Iya, semua...
Ibu : %$#&*^$%@.... (asli, syok dengernya.. seumur-umur kalo main ke timezone itu paling banyak ngabisin 50 ribu aja.. lha ini 100 ribu langsung bablas dengan suksessss...)
Ibu : (setelah pulih dari syok... hehehe) Kan tadi ibu udah bilang, uangnya sekalian buat traktir tante Ninik juga, kok malah dihabisin di timezone sih?
Nisa : Emang tadi ibu bilang gitu? Kok aku gak denger... Aku pikir aku dikasih uang segitu ya udah aku pake buat main semua...
Ibu : %$#&*^$%@ lagi.... (geregetan tapi gak bisa ngomong lagi... duh Gustiiii... anakku kok segitu polosnya....)

Tapi kalo mau dipikir-pikir dari kejadian itu, mungkin saya punya andil salah juga.. Nisa itu dari kecil gak pernah saya biasakan pegang uang, jadi mungkin sampe sekarang tuh dia belum ngerti bener tentang nilai uang yang sebenarnya... Di rumah bisa dibilang Nisa gak pernah jajan, apalagi di sekolah.. dia hanya makan bekal dari rumah. Kalopun pengen beli sesuatu, biasanya dia bilang ke saya, kemudian saya yang membelikan.

Akhirnya saya mencoba menjelaskan arti uang 100 ribu itu dengan memberikan perbandingan. Selama ini Nisa mendapatkan reward 5000 rupiah setiap kali mengerjakan Kumon lebih baik dari sebelumnya. Nah, saya bilang, uang 100ribu itu sama dengan Nisa mengerjakan Kumon 20 kali, kalau sehari mengerjakan 1 kali, berarti itu hasil jerih payah Nisa mengerjakan Kumon selama 20 hari.

Perbandingan lainnya, ramadhan kemarin, setiap kali Nisa puasa penuh 1 hari, rewardnya 5000 rupiah. Jadi uang 100 ribu itu senilai dengan Nisa puasa selama 20 hari..hampir 1 bulan..
Dan perbandingan-perbandingan lainnya.... Baru deh dia bisa ngerti, bahwa untuk mendapatkan uang sebesar itu, dia harus melakukan usaha tertentu, dan dia tau itu tidak mudah.. tapi di sisi lain, dia dengan mudah menghabiskan uang yang didapatkan dengan suah payah dalam waktu tidak sampai satu jam.

Hmm... mudah-mudahan penjelasan saya ini bisa dimengerti oleh Nisa...

Senin, 27 Oktober 2008

Lihat Kebunku...




Eitsss... jangan dibayangin kebun yang luasssss dengan berbagai macam tanaman bunga-bungaan yang indah yaaa.... yang ini sih sebenernya kebun-kebunan... hehehe... kebun wannabe... Saya tuh kok ya kurang suka gitu berkebun bunga-bungaan warna-warni yang "hanya" enak dilihat tapi gak enak dimakan... apalagi yang muahal-muahal harganya... enggak banget dehhhh..... Kebun wannabe saya isinya tuh cabe, belimbing wuluh (yang sekarang lagi ngambek berbuah), jeruk purut (yang belakangan ternyata meranggas dan merana..), jeruk apa namanya gak tau (parah banget deh nih... hehehe), sawi ijo, bayem... Ini dia para penghuni kebun wannabe saya... sebagian udah almarhum karena memang umurnya cuma 1 musim aja, tapi sebagian lagi masih dengan setia menghiasi halaman depan dan samping saya yang cuma seuprit...

Bayem, sudah dipanen dan sukses untuk bikinin sayur bening nisa


Sawi ijo, sementara baru off dulu dari dunia perkebunan saya, karena ternyata tidak sesuai dengan yang saya bayangin... hehehe

Cabe Rawit Thailand (kata di bungkusnya).. sudah terbukti, sudah teruji... puedesnya polll.... sudah berhasil dipanen kemaren sore sebanyak 5 biji.. sukses buat temen makan tempe goreng...

Belimbing Dewi.. baru pertama kali berbuah, sebenernya ini buah yang ke dua, setelah yang pertama rontok tanpa ada yang tau... hikss... Agak kuntet, tapi belum teruji rasanya.. don't judge the book by the cover..

Meskipun buahnya cuma sebiji, tapi bunganya banyak lho... mudah-mudahan jadi yaaa... eh, tadi pagi saya liat udah ada yang jadi buah lho.. masih kuecillll banget....

Ini nih jeruk yang saya gak tau namanya.. hahaha... lebih tepatnya lupa namanya, soalnya pas beli sebenernya udah dikasih tau sih ama penjualnya, tapi dasar saya ini pelupa banget, jadi ya mohon maklum aja ya....

Selasa, 21 Oktober 2008

Mudikz Story...

Mohon maafff.... bagi-bagi cerita mudiknya telat banget. Gak tau kenapa, belakangan ini saya lagi gak mood banget ngutak atik blog.. Sebenernya hampir tiap hari saya selalu nengokin blog sih, tapi begitu buka layar "new post", tiba-tiba blank.. gak tau mau nulis apa.. gitu terus tiap hari, sampai Ayahnya Nisa protes, kok blognya gak diupdate sih? Hehehehe... iya deh, sekarang diupdate nih...
Cerita mudik dimulai ketika mobil kami mulai keluar dari gerbang rumah kami pada hari Jumat, 26 September 2008 jam 5.30 pagi. Tujuan pertama adalah kantor saya.. rencana awal mau berangkat setelah sholat jumat, tapi berubah sehari sebelum hari H karena ngeliat perkembangan jalur pantura di tivi.. takutnya kalo berangkat siang menjelang sore udah padet, macet berkilo-kilo di tol.. makasih deh, masih trauma lebaran tahun lalu, Jakarta-Solo ditempuh dalam 22 jam. Plan B dijalankan.. Nisa dan para dayang beserta barang-barang langsung ikut ke kantor saya, ntar Ayah mau ngantor juga sebentar, liat-liat sikon kapan kita bisa berangkat, tapi yang pasti sebelum sholat jumat.. ya kira-kira jam 9-10an gitu deh. Ternyata pas hari H nya, rencana berubah lagi.. abis saya absen, naruh-naruh pesanan kue ke meja temen2, trus langsung ijin cabut ke kantor suami.. nunggu di sana aja deh.. Sampe kantor, ternyata Ayah bisa langsung berangkat.. horeee... akhirnya jam 6.30 kita mulai start dari kantor Ayah deh... Solo...he're we come.....
Perjalanan sepanjang tol Cikampek lancar, sampe menjelang pintu keluar tol Cikampek, mulai deh ngantri bersama para pemudik yang lain... hmmm..welcome to mudikers comunity.. hehehe... Dari yang merdeka lancar jaya, sekarang harus berhenti dan merayap pelan.. at a snail speed... untung macetnya "cuma" sampe persimpangan Jomin, abis itu pas udah belok ke kanan ke arah pamanukan gitu udah lancarrrr lagi.. Rombongan motor banyak juga sih, tapi mungkin karena lebarannya masih agak lama jadinya belum membeludak dan relatif lebih teratur karena banyak yang dikawal polisi.

Nisa lagi leyeh-leyeh di mobil yang terjebak macet di pintu tol cikampek, nggayaaa...!!!

Keluar pintu tol Palimanan-Kanci jam 11an lebih deh.. istirahat deh kita sampe jam 1 an.. baru lanjut lagiii... Brenti lagi di Tegal buat isi bensin dan istirahat sebentar.. lanjut lagiiii... lupa brenti di mana lagi, yang jelas kami masuk kota Semarang tuh hampir jam 5 an kalo gak salah. Nah, begitu masuk Semarang ini jalanan mulai crowded gak karuan.. baru nyampe Mangkang aja nih, pas deket pintu tol udah macet.. di tol agak lumayan sih, tapi begitu keluar di Banyumanik, udah deh... harap sabarrrr.... rute Semarang Solo emang selalu rame, apalagi pas menjelang lebaran gini.. mana jalannya kan gak gede-gede amat tuh, jadinya ya harus puas jalan beriringan gitu deh... Pas kita baru keluar dari Semarang, dapet sms dari temen yang tadi berangkatnya barengan dari Jakarta tapi dia lewat jalur selatan.. mereka sudah sampe Jogja.. means sudah sampe di tujuan dengan selamat... Wah, berarti jalur selatan lebih lancar dong, padahal jarak tempuhnya kan lebih jauh... ya udah, gak papa lah, yang penting sama-sama nyampenya, gak dikejar waktu ini... Akhirnya kami nyampe Solo jam 8 malem.. Alhamdulillah, perjalanan mudik kami kali ini lancar.. "cuma" 13 jam sudah termasuk istirahat berkali-kali.. Cerita selama di Solo ntar dulu ya...

Laskar Pelangi - The Movie


Beberapa hari sebelum penayangan perdana Film Laskar Pelangi di Bioskop, Nisa udah wanti-wanti dan menghitung hari, kalo pengen nonton dulu sebelum kami berangkat mudik ke Solo. Padahal hari pertama tayang tuh tanggal 25, sementara kami mudik tanggal 26 pagi. That means.. nontonnya harus tanggal 25 kan... Dan tau sendiri kan, kalo hari pertama gitu ngantrinya kaya apa... Pertamanya mau nonton yang malem aja, biar saya bisa ikut, gitu maksudnya... hehehe... secara saya kan juga LP Lover... Tapi setelah dipikir-pikir, kalo nonton malem, pulangnya jam berapa.. trus belum packing barang buat mudik, belum lagi ngurusin last order kue kering yang mesti dianterin besoknya juga... huaaaa.... banyak banget to do listnyaaa... Nisa dibujuk buat nonton di Solo aja, gak mau, tetep ngotot pengen nonton di jakarta.. Ya sudahlah, keputusannya tetep nonton di jakarta, tapi kalo bisa siang aja dan saya gak ikut (hikss...), ntar malem baru packing dan nyiapin kue kering yang mau dikirim besoknya.
Akhirnya tanggal 25 September jam 11 siang, pas Nisa masih Kumon, Aponya pergi duluan ke Bintaro Plaza buat ngantri tiket.. pesen saya: Sedapetnya..tapi sebisa mungkin yang siang aja.. kalo gak dapet siang atau sore, ya terpaksa malem gak papa... Ternyata oh ternyata.. sampe di bioskop, pintu belum dibuka, tapi yang ngantri udah banyak bangetsss... tapi alhamdulillah, masih dapet yang pemutaran pertama (jam 12 an kalo gak salah), meskipun dapet kursi di baris ke 2 dari depan...
Pulang nonton, Nisa cerita seru banget soal filmnya... dan ternyata nih... Nisa tadi berurai air mata lho pas nonton LP.. kasian, bu, Lintang gak bisa sekolah lagi karena ayahnya meninggal... yaaaa.... ibunya jadi tambah pengen nonton nihhhh.... Trus sore itu juga Nisa bilang, pengen nonton lagiiii... soalnya udah kangen sama Lintang.... Saya bilang, ntar di Solo kita nonton lagi..
Okey... akhirnya besoknya kita mudik deh dengan sukses.. Eits, cerita mudiknya ntar dibikin tulisan sendiri aja yaaa...

Pas di Solo dapet cerita dari Lia, katanya kok di Solo tuh LP gak terlalu ada gaungnya.. katanya ramenya cuma pas hari pertama aja. Masa sih??? Kalo bener gitu lebih enak deh, urusan ngantri mengantri tiket jadi lebih gampang.. Hari lebaran kedua, kita jalan ke Solo Grand Mall, jam 12 an gitu deh.. gak taunya baru mau nyari parkir aja susah banget.. wah, alamat buruk nih, jangan-jangan orang-orang pada mau nonton LP juga. Setelah urusan parkir selesai (muternya berkali-kali), saya langsung mendahului ke bioskop..dan bener aja, antriannya udah kaya ular naga panjangnya buka kepalang... mana nih yang dibilang sepi? Baru masuk aja nih, udah ada pengumuman, tiket yang buat jam 13.10 udah abissss.... gak papa deh, nonton yang jam 15.30. Pas ngantri, saya iseng nanya sama petugas securitynya, minta tolong diliatin tket yang buat jam 15.30 masih banyak gak? Ternyata tinggal 2 seat lagi..sementara antrian di depan saya masih buuaanyaaakkkk... Oke, diputuskan kita gak jadi nonton hari ini.. besok balik lagi aja deh.. dan ternyata, kalo di Solo nih, loket bukanya jam 9.30... Oooo... pantesannnn....
Besoknya, Lia diutus untuk ngantriin tiket, jam 9.30 teng udah di depan pintu masuk bioskop.. hehehe... niat banget euy... Beli tiket buat 6 orang.. dapet deh yang jam 13.10. Ayah Nisa nih, yang dari awal gak suka baca novel LP, udah hampir gak mau ikut nonton.. yaa..gimana dong, udah dibeliin tiket tuh.. tapi akhirnya mau juga ding.. dan ternyata pas nonton filmnya ikutan terharu biru juga lhoo... dan sampe di rumah, langsung keracunan baca Sang Pemimpi dan Edensor...hehehe... inspiring kan Yah... Kalo saya, jangan ditanya deh.. ketawa, nangis, ketawa lagi, nangis lagi.. dari awal sampe akhir... hihihi... padahal saya udah bolak balik meng-khatam-kan novelnya lho, tetep aja pas nonton filmnya masih mewek juga...
Komentarnya: worth it lah sama ngantri dan bolak baliknya... hehehe... banyak pelajaran hidup yang bisa kita dapat dari nonton film dan baca novel LP ini... Bagaimana perjuangan anak-anak kampung dengan segala keterbatasannya, tapi tetep semangat buat belajar dan menggapai cita-cita.. Kalo anak orang kaya, sukses sekolahnya, itu mah udah biasa..segalanya ada.. ibarat mobil tinggal ngegas aja.. Nah, kalo anak orang gak mampu, sekolah di bangunan yang hampir rubuh, dengan modal semangat, bisa sekolah tinggi dan sukses meraih cita-citanya.. itu baru Luarrrr Biasaaaa.... Dan satu lagi.. jangan takut untuk bermimpi... karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (Arai-Sang Pemimpi)..