Jejak Langkah Kami...

Tampilkan postingan dengan label parenting and health. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting and health. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juli 2008

Keep Your Teeth Clean and Healty (6)

DARI GIGI SUSU KE GIGI TETAP

Gigi susu mulai tanggal dan digantikan gigi tetap pada sekitar usia 6-12 tahun.



PERHATIKAN DENGAN CERMAT
Masa pergantian dari gigi susu ke gigi tetap perlu mendapat perhatian saksama. Pergantian ini menentukan baik tidaknya kualitas susunan gigi. Jika tak diperhatikan dengan cermat, bisa saja susunan gigi terlalu berdempetan, acak-acakan, bahkan agak maju ke depan (tonggos). Tentu hal ini akan mengurangi keindahan penampilan anak.


28 GIGI TETAP DI USIA 13
Gigi tetap yang paling dahulu tumbuh adalah gigi seri atas dan bawah, berikutnya gigi geraham kecil, gigi taring, lalu gigi geraham besar. Gigi tetap akan menggantikan 20 gigi susu yang sudah ada, ditambah 12 gigi tetap yang tak memiliki gigi susu, yaitu gigi belakang atas dan bawah, termasuk 4 gigi geraham terakhir (bungsu) yang biasanya tumbuh paling belakang. Umumnya, di usia 13, gigi tetap (28 buah) sudah tumbuh semua, kecuali gigi bungsu yang baru tumbuh di usia sekitar 17-21 tahun untuk kemudian jumlahnya menjadi 32 gigi tetap.


KETIKA GIGI SUSU MULAI TANGGAL
Gigi susu sebaiknya tanggal tepat waktu supaya pertumbuhan gigi tetap bisa berjalan baik. Pergantian gigi susu ke gigi tetap biasanya ditandai dengan gigi susu yang mulai goyang. Bila sudah waktunya muncul gigi tetap namun gigi susu belum tanggal juga, kita bisa merangsang gigi susu tanggal tepat waktu dengan cara mendorongnya menggunakan lidah atau tangan.


RANGSANG ERUPSI GIGI TETAP
Setelah gigi susu tanggal, guna merangsang keluarnya gigi tetap disarankan untuk sering mengunyah makanan. Mengunyah makanan, terutama yang berserat, dapat memacu kerja rahang untuk memberi ruang yang cukup bagi erupsi gigi tetap. Makanan yang berserat pun baik untuk membersihkan gigi geligi dari sisa-sisa makanan.


BILA GIGI TETAP TAK KUNJUNG MUNCUL
Biasanya, gigi tetap akan muncul seiring dengan tanggalnya gigi susu. Jadi, posisi gigi yang sudah kosong cepat tergantikan. Kecuali bila tanggalnya gigi susu terjadi sebelum jadwal erupsi gigi tetap. Misal, gigi susu seri sudah rusak dan tanggal akibat karies dan sebagainya saat usia anak 5 tahun padahal gigi tetapnya baru akan erupsi di usia 6-8 tahun. Bila demikian, erupsi gigi tetap akan ditunggu hingga tiba jadwalnya.

Dibuatkan Mahkota Gigi Tiruan


Ada kasus, gigi tetap tak muncul-muncul meskipun jadwal erupsinya sudah lewat. Penyebabnya bisa karena posisi gigi geligi dan tulang rahang tidak seimbang sehingga erupsi gigi tetap tak beraturan. Bisa juga karena anak memang tidak memiliki benih gigi tetap. Yang harus dilakukan adalah membawa anak ke dokter gigi untuk penanganan masalahnya. Bila ternyata benih gigi ada meskipun lokasi munculnya sudah terlalu padat biasanya gigi tetap akan dirangsang untuk tumbuh, sedangkan bila tak ada benih akan dibuatkan mahkota gigi tiruan.

Keep Your Teeth Clean and Healty (5)

Masih artikelnya Mbak Utiek dari milis nakita.. happy readinggggg.....
PEMERIKSAAN KE DOKTER GIGI

Perawatan sehari-hari di rumah saja tak cukup, gigi anak juga perlu diperiksakan ke dokter gigi secara berkala.
PAHAM PSIKOLOGI ANAK
Ingatlah, gigi susu dan gigi tetap hanya tumbuh sekali dan digunakan seumur hidup. Karena itu, perawatannya harus benar-benar diperhatikan. Dengan pergi ke dokter gigi, maka gangguan kecil bisa segera diatasi, seperti plak, karies, dan lainnya. Sangat baik jika yang kita datangi adalah dokter gigi yang memahami kondisi pertumbuhan gigi anak, beserta perilaku khas anak dan cara menghadapinya.
KENALKAN SECARA TEPAT
Membawa anak ke dokter gigi tak selamanya mudah. Pemeriksaan gigi butuh peralatan, yang menurut anak, mungkin sangat menyeramkan. Belum lagi dengan proses pemeriksaan yang bisa jadi cukup merepotkan. Untuk itu, kita perlu mengenalkan anak kepada sosok dokter gigi secara tepat supaya ia tak takut saat diajak berkonsultasi atau berobat. Pengenalan ini bisa dilakukan sejak giginya mulai tumbuh di usia 6-12 bulan.
AJAK MAIN DOKTER-DOKTERAN
Nah, agar anak mudah diajak ke dokter gigi, kita bisa melakukannya dengan mendekatkan anak pada sosok dokter gigi melalui permainan dokter-dokteran. Ciptakan imej yang positif tentang dokter gigi, semisal dengan mengungkapkan kebaikan yang dilakukan oleh dokter, "Dokter akan memeriksa gigimu dan bisa menyembuhkan kalau ada gigi yang sakit lo, Dek!"
MENDONGENG
Mengenalkan sosok dokter gigi juga bisa dilakukan lewat dongeng. Contoh, seorang anak yang sakit gigi lalu disembuhkan oleh dokter gigi, pengalaman menyenangkan saat ke dokter gigi, suasana menyenangkan di ruang praktik dokter gigi, dan sebagainya. Dongeng-dongeng ini akan membantu anak mendapatkan gambaran yang baik tentang dokter gigi.
APA YANG DILAKUKAN DOKTER GIGI DI KAMAR PRAKTIKNYA?
* Sering kali dokter meminta keterlibatan orangtua untuk mendampingi anak di ruang praktik. Nah, kita harus bekerja sama dengan dokter, misalnya mengucapkan kata-kata positif supaya anak tak takut. Ini sangat menentukan keberhasilan perawatan.
* Sebelum memeriksa, dokter akan melakukan pendekatan khusus supaya anak tidak takut, canggung, ragu-ragu, dan lainnya. Pendekatan biasanya dilakukan dengan menyapa, memperkenalkan diri, mengenalkan peralatan dokter, dan sebagainya. Umumnya dilakukan sambil bermain.
* Setelah itu dokter akan memeriksa atau menanyakan data riwayat medis sejak masa prenatal, perinatal, dan pascanatal.
* Selanjutnya, dokter melakukan pemeriksaan rongga mulut si kecil. Dokter juga memeriksa jumlah gigi susu sesuai usia atau tanda-tanda-tanda erupsi, memantau pertumbuhan lengkung rahang, proses erupsi gigi sulung, serta mengobservasi benih gigi dengan cara dirontgen (panoramic photo) bila diperlukan. Namun yang terpenting di sini, dokter tak langsung mengambil tindakan yang radikal, sebab akan membuat anak trauma dengan rasa sakit yang ditimbulkannya, semisal cabut gigi.
* Untuk mencegah karies, dokter biasanya melakukan fluoridasi atau aplikasi fluor, terutama jika pola makan anak cenderung tinggi karbohidrat. Tapi tanpa fluoridasi pun sebenarnya karies bisa dicegah dengan pasta gigi yang sudah mengandung fluor.
* Setelah memeriksa, dokter akan menganjurkan untuk datang kembali 3-6 bulan berikutnya guna memantau kembali pertumbuhan gigi anak. * Pada pertemuan berikutnya, dokter akan melakukan pemantauan seluruh gigi dan mulut, seperti ada-tidaknya plak, karies, pertumbuhan abnormal, dan lainnya. Kemudian, dokter akan melakukan perawatan dengan tindakan, antara lain membersihkan plak gigi dan karang gigi jika ada. Bila ada tindakan khusus, seperti pencabutan gigi, biasanya dokter akan meminta anak kembali sesuai kasus yang dihadapi. Perawatan biasa umumnya memerlukan kontrol pada 3 sampai 6 bulan berikutnya.

Keep Your Teeth Clean and Healty (4)

KENALKAN CARA MENGGOSOK GIGI
Bila sudah dikenalkan sejak dini, akan menumbuhkan kebiasaan menggosok gigi.

SESEGERA MUNGKIN
Anak perlu dikenalkan cara menggosok gigi sejak dini. Idealnya sesegera mungkin setelah gigi susu seri pertama tumbuh, atau ketika anak menunjukkan ketertarikan pada kegiatan sikat gigi. Anak yang suka menirukan gerakan kita menggosok gigi berarti sudah tertarik dengan aktivitas menyikat gigi. Segeralah kenalkan. Umumnya, ketertarikan anak mulai terlihat di usia 2-3 tahun ketika gigi susunya mulai lengkap.

SIKAT GIGI KHUSUS ANAK
Agar ia lebih berminat, berikan sikat gigi yang memiliki desain menarik. Misal, sikat gigi berbentuk binatang, warna-warna cerah, atau bentuk-bentuk lucu dan unik. Perhatikan pula, sikat gigi khusus untuk anak-anak, yaitu yang ukurannya kecil, berbulu lembut, berujung lengkung, dan bergagang rata atau lurus sehingga mudah digenggam anak. Paling baik jika sikat gigi yang kita pilihkan untuk anak sudah memenuhi standar ADA (American Dentist Association).


BANTU ANAK MELAKUKANNYA
Tak hanya mengenalkan, kita pun perlu mengajarkannya. Contohkan bagaimana menyikat gigi yang benar, yaitu dari gusi ke gigi dengan gerakan menyapu atau berputar searah untuk pemijatan sekaligus membersihkan gusi dan gigi. Bantu anak melakukannya, caranya berdiri di belakang anak menghadap cermin atau berhadap-hadapan. Ajarkan secara perlahan sampai anak memahaminya. Tapi jangan langsung berharap, anak mampu melakukannya dengan sempurna, sebab umumnya anak baru bisa melakukannya sendiri di usia 4 tahun.


TIDAK HARUS PAKAI PASTA
Untuk anak, menyikat gigi dengan pasta bukanlah suatu keharusan. Namun dengan pasta lebih baik, karena memberikan efek kesegaran di mulut. Pilihlah pasta yang rasanya cocok dan aman untuk anak. Misalnya, pasta rasa buah jeruk. Umumnya pasta gigi ini aman meskipun tertelan anak.

JELASKAN MANFAATNYA
Anak terdorong menyikat gigi bila kita menjelaskan manfaatnya. Umpama, kalau rajin sikat gigi maka giginya tidak berlubang, tak ada kuman, putih bersih, tidak sakit, tidak bau, dan sebagainya. Pengetahuan ini penting supaya kelak anak rajin menggosok gigi tanpa harus dipaksa.

Cara Membersihkan Gigi Yang Benar

Berikut cara menggosok gigi yang benar:
1. Gunakan air yang benar-benar bersih. Untuk anak yang belum dapat meludah, gunakan air matang.
2. Gerakkan sikat gigi dari gusi ke gigi, rumusnya adalah FRTW (From Red To White) dari warna merah (gusi) ke warna putih (gigi). Gerakan sebaiknya satu arah, dari atas ke bawah untuk gigi atas dan dari bawah ke atas untuk gigi bawah. Permukaan kunyah disikat dari arah dalam ke luar.
3. Gosok semua permukaan gigi, dari gigi bagian luar, tengah, dan bagian dalam.
4. Gosok pula gusi secara lembut.
5. Untuk hasil optimal, gunakan cermin saat menggosok gigi.

TAK BOLEH SERING MEMAKAI OBAT KUMUR
Obat kumur sebaiknya tak diberikan kepada anak, setidaknya hingga berusia 7 tahun. Pasalnya, anak bisa saja menelan obat kumur tersebut yang dikhawatirkan dapat mengganggu pencernaan. Lagi pula, obat kumur merupakan antiseptik yang dapat membunuh bakteri. Padahal, di dalam mulut ada bakteri baik dan jahat. Bila dipakai terlalu sering, setiap hari misal, bakteri baik akan terbasmi. Sesekali boleh saja memberikan obat kumur. Tapi juga harus diperhatikan, anak harus sudah mengerti penggunaannya, yaitu dikumur dengan baik lalu dikeluarkan dan tidak ditelan.

BENANG GIGI TAK DIANJURKAN
Bagaimana membersihkan sela-sela gigi geligi yang rapat? Orang dewasa umumnya menggunakan dental floss (DF) atau benang gigi yang dirancang khusus, terbuat dari nilon dan dilapisi lilin. DF dapat membersihkan daerah-daerah yang tak bisa dijangkau oleh sikat gigi, yakni di sela gigi (interdental) dan gigi geligi yang berjejal. DF harus bersifat elastis dan kuat.
Namun, penggunaan DF pada anak tak dianjurkan. Anak kecil umumnya tak bisa diam. Salah-salah, pemakaian DF malah bisa melukai gusi. Gunakan waslap untuk membersihkan gigi geliginya yang sulit dijangkau bulu sikat gigi secara perlahan. Nah, di usia praremaja dimana gigi geligi mereka lebih rapat dan mereka pun sudah bisa menyikat gigi dengan baik, DF boleh saja digunakan.

Keep Your Teeth Clean and Healty (3)

PERAWATAN GIGI Dan GUSI BAYI
Orangtua harus rajin membersihkan lidah dan gusi bayi begitu selesai menyusu dan sebelum tidur malam.
Bayi harus dibiasakan membersihkan gigi dan gusinya meski giginya belum benar-benar tumbuh. Waktu ideal membersihkan gigi adalah begitu selesai minum susuapalagi bayi yang minum susu dari botol, dan sesaat sebelum tidur.
Menggosok gigi setelah makan/minum susu bertujuan mengangkat sisa-sisa makanan/susu yang menempel di permukaan ataupun di sela-sela gigi dan gusi. Sedangkan menggosok gigi sebelum tidur berguna untuk menahan perkembangbiakan bakteri dalam mulut, karena dalam keadaan tidur tak diproduksi ludah yang berfungsi membersihkan gigi dan mulut secara alami. Selain itu, kebiasaan membersihkan gigi dan gusi bermanfaat bagi kesehatan mulut, merangsang pertumbuhan gigi, sekaligus latihan membiasakan gosok gigi sejak dini.
Kebersihan gigi dan gusi bayi, kuncinya ada di tangan orangtua, mengingat bayi belum bisa melakukannya sendiri. Kalau kebiasaan ini sudah dimulai sejak dini, pola ini akan memudahkan orangtua saat anaknya sudah harus menggosok gigi sendiri. Jadikan kebiasaan menggosok gigi sehabis makan dan sebelum tidur sebagai kebiasaan bersama seluruh keluarga, sehingga tanpa disuruh pun kelak anak akan melakukannya sebagai kebutuhan.

LANGKAH-LANGKAH MEMBERSIHKAN GIGI DAN GUSI BAYI
+ Bila gigi belum muncul:
· Sediakan potongan kain kasa atau kain steril yang lembut.
· Balutkan kain pada jari telunjuk orangtua.
· Celupkan/basahi kain tersebut dengan air matang.
· Bersihkan mulut dan gusi si kecil secara perlahan.
· Posisikan bayi berbaring agak tegak atau duduk di pangkuan kalau sudah bisa.
+ Bila gigi sudah muncul:
· Gunakan sikat gigi mungil atau bisa juga menggunakan kapas/kasa sambil dikenalkan pada sikat gigi. Pilih sikat gigi karet, bulu, atau sikat gigi sarung untuk dipakai pada jari telunjuk orangtua. Jika gigi sudah keluar lebih dari 8, bersihkan dengan sikat gigi bayi yang mempunyai ujung kecil dan berbulu halus, dengan kode ukuran P20, atau yang berbulu karet.
· Jika hendak menggunakan pasta gigi, gunakan sedikit saja (seukuran biji jagung) sekadar untuk memberi rasa. Pilih pasta gigi khusus untuk anak sehingga aman bila sampai tertelan. Prinsipnya, pasta gigi tak wajib digunakan pada bayi dan balita, kalaupun digunakan sekadar untuk mengenalkannya saja.
· Posisikan bayi duduk di pangkuan. Arah membersihkannya bisa vertikal maupun horisontal. Yang penting seluruh permukaan gigi, baik bagian luar maupun dalam (yang menghadap ke lidah), dan sela-selanya ikut dibersihkan. · Sediakan lap basah karena si kecil belum bisa berkumur. Setelah selesai, gunakan lap basah itu untuk menyeka sisa pasta giginya dari mulut dan bibir sampai bersih.

Keep Your Teeth Clean and Healty (2)

Lanjut ya, tulisan kedua dari kumpulan artikel mbak Utiek (Milis Nakita).
Nah, yang ini panduan buat yang punya bayi nih...

KAPAN MULAI TUMBUH GIGI?

Umumnya, gigi susu pertama tumbuh di usia 6-12 bulan. Tapi ada juga yang sejak lahir sudah punya gigi.
SEJAK DI KANDUNGAN
Tak banyak orangtua yang tahu kalau pembentukan calon (benih) gigi dimulai sejak janin berusia 4 minggu, meski proses keluarnya atau erupsi dimulai saat bayi berusia 6-7 bulan. Karenanya kecukupan kalsium harus dipenuhi sejak anak masih dalam kandungan. Kalsium sangat berguna pada saat proses pembentukan gigi dan tulang. Namun, tak berarti ibu yang lebih banyak mengonsumsi kalsium akan melahirkan bayi dengan pertumbuhan gigi yang lebih cepat. Bagaimanapun juga, pembentukan gigi membutuhkan jangka waktu dan daya serap kalsium setiap janin berbeda-beda.
USIA SEKITAR 6-12 BULAN
Proses erupsi atau keluarnya gigi pada masing-masing bayi tidaklah sama. Banyak faktor yang memengaruhinya, di antaranya kecukupan kalsium, genetik, dan lainnya. Meski demikian, umumnya gigi susu pertama tumbuh di usia sekitar 6-12 bulan. Bagian yang muncul adalah mahkota gigi yang berwarna putih dengan lapisan luar disebut email.
GIGI NATAL & NEONATAL
Ada juga bayi yang lahir dengan memiliki gigi (istilahnya, gigi natal). Erupsi gigi susu yang terjadi lebih dini ini termasuk kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi. Tumbuhnya tidak tentu, di bagian depan atas atau bawah, tapi jarang di bagian belakang. Banyaknya satu buah. Ada juga erupsi gigi dini yang terjadi baru pada bulan pertama setelah kelahiran (istilahnya, gigi neonatal). Pada kasus keduanya, belum tentu bayi mengalami gejala sakit tumbuh gigi. Penanganan dilakukan dengan melihat apakah gigi erupsi dini mengganggu atau tidak. Jika tidak, akan dibiarkan.
KOK, BELUM TUMBUH JUGA?
Umumnya, di usia 1 tahun anak memiliki 6-8 gigi susu dan akan lengkapmemiliki 20 gigipada usia 2 tahun. Memang, tak selamanya gigi tumbuh tepat waktu. Bila sampai satu tahun giginya tak tumbuh, sebaiknya konsultasikan ke dokter gigi. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan foto rontgen. Jika benih gigi sudah ada namun sulit keluar, akan diminta menunggu beberapa minggu sampai gigi benar-benar keluar. Umumnya ditandai dengan penonjolan-penonjolan di gusi. Kontrol teratur sangat dianjurkan supaya masalah yang ada bisa diatasi bersama. Tak menutup kemungkinan salah satu benih giginya, baik gigi susu maupun tetap, tidak terbentuk. Umumnya disebabkan faktor genetik. Biasanya sebagai pengganti akan dibuatkan gigi tetap tiruan.
GEJALA ERUPSI
Meski tidak semua, tapi umumnya anak akan memperlihatkan gejala berikut saat proses erupsi:
* Gatal pada gusi. Bila sudah memasuki usia tumbuh gigi, bayi akan terlihat sering menggigit-gigit barang atau bahkan orangtuanya. Ini wajar saja, karena proses tumbuh gigi menyebabkan rasa gatal pada gusinya. Supaya nyaman, berikan biskuit bayi yang agak keras tapi akan hancur terkena air liur, sehingga tak membahayakan. Atau bisa juga diberi mainan khusus bayi untuk digigit-gigit yang aman dari zat beracun.
* Rewel & tak nafsu makan. Rasa tak nyaman itu juga membuat bayi jadi rewel dan malas mengunyah sehingga ia pun malas makan untuk sementara waktu.
* Gusi kemerahan. Gigi yang mendesak akan keluar menyebabkan gusi terlihat kemerahan.
* Demam. Beberapa anak ada yang sampai demam, tapi biasanya demamnya tidak tinggi. Untuk memastikannya, sebaiknya bawa anak ke dokter, apakah demamnya memang disebabkan tumbuh gigi atau karena terinfeksi penyakit.

Keep Your Teeth Clean and Healty

Postingan kali ini agak serius dikit ahhh... gara-gara belakangan ini mondar-mandir ke dokter gigi, makanya pengen posting artikel all about gigi, terutama yang berkaitan dengan gigi anak. Artikel ini saya dapat dari milis nakita, dikirim oleh mbak Utiek. Biar lebih enak bacanya, akan ada beberapa bagian tulisan tentang gigi (di milis sih sekali posting, tapi panjang banget, capek bacanya). Ini bagian pertama dari kumpulan artikelnya mbak Utiek. Happy reading...

GIGI TERAWAT, ANAK SEHAT

Kesehatan gigi dan mulut dapat menggambarkan keadaan kesehatan seorang anak.
JIKA TIDAK TERAWAT
Hanya karena memiliki gigi susu berlubang, pertumbuhan gigi tetap penggantinya dapat terganggu. Antara lain, dapat terjadi perubahan letak/tempat tumbuhnya gigi tetap, kerusakan pada lapisan gigi tetap yang terkena dampak dari gigi susu yang berlubang, bahkan dapat mengganggu proses pengunyahan. Rasa sakit yang dialami anak akan berakibat hilangnya nafsu makan, sehingga bila hal ini berlangsung lama dapat mengakibatkan asupan kecukupan gizinya tak terpenuhi, yang selanjutnya berdampak pada terganggunya pertumbuhan dan perkembangan rahang, maupun tumbuh kembang fisik anak.
RAWAT SEJAK DINI
Gigi manusia terdiri atas beberapa lapis. Lapisan pertama disebut email. Lapisan ini berfungsi sebagai pelindung gigi dari berbagai rangsangan dari luar. Lapisan selanjutnya adalah dentin, kemudian pulpa yang berisi serabut saraf dan pembuluh darah. Dengan adanya serabut saraf dan pembuluh darah itulah, gigi akan terasa ngilu bila berlubang (karies). Nah, agar terhindar dari kerusakan, gigi harus memiliki daya tahan yang kuat. Antara lain, gigi harus memiliki struktur email (lapisan pelindung gigi) yang bagus. Hal ini bisa diwujudkan kalau gigi selalu bersih dan terbebas dari plak (lapisan sisa-sisa makanan yang menempel pada gigi). Karenanya, perawatan gigi harus dilakukan sejak dini dan dengan cara yang benar.
PENUNTUN GIGI TETAP
Jadi, meski gigi belum benar-benar tumbuh, orangtua harus membiasakan membersihkan bagian dalam mulut bayi sehabis menyusu. Apalagi setelah gigi susu mulai tumbuh, perawatan harus lebih intensif, minimal gosok gigi 2 kali sehari secara rutin dan sehabis makan/minum susu. Mengapa gigi susu harus dirawat dengan baik? Sebab, gigi susu berfungsi sebagai penuntun arah keluarnya gigi tetap. Jika gigi susu tanggal jauh sebelum waktunya gigi tetap keluar (erupsi) maka gigi geligi "tetangganya" akan bergeser mengisi sebagian kavling yang kosong. Akibatnya, gigi tetap tumbuh tidak pada tempatnya alias berantakan. Tentu, perawatan gigi harus terus dilakukan sekalipun gigi susu sudah tanggal dan digantikan oleh gigi tetap.

Senin, 14 Juli 2008

Visit the Dentists...


Sabtu kemaren jadwal Nisa ke dokter gigi, cabut gigi susu yang kesundhulan (halah... apa ya bahasa indonesianya???) dengan gigi tetapnya. Pengennya sih bisa copot sendiri, tapi setelah sekian lama digoyang-goyang gak lepas-lepas, terpaksa deh keluar ajian pamungkasnya... telp Karinta aja, bikin janji ketemu dokter Lita. Ternyata Ayah tertarik juga ke dokter gigi, mau konsultasi gigi bungsunya yang tumbuh miring. Dapet jadwal Sabtu jam 9.30. Oke deh...

Sabtu jam 9.30 tepat kami sampe ke kliniknya dokter Lita.. Nisa tetep cabut gigi, sementara ayah minta scalling alias ngebersihin karang gigi, sekalian rontgen gigi untuk tahu posisi geraham bungsunya yang bermasalah. Karang gigi beres.. terus pas dokter Lita ngeliat posisi gigi bungsunya, rekomendasinya "cabut sekarang juga, karena gigi depannya geraham bungsu udah rusak juga". Duenggggg.... o..o... ini di luar skenario nih... Tapi ya apa boleh buat lah, udah sekalian jalan, ya udah lah dok, kerjain aja...

Ternyata untuk nyabut gigi bungsu itu perlu tindakan "pembedahan".. saya sebenernya pengen nungguin Ayah yang lagi diodet-odet sama dokter Lita n asistens, tapi karena ada Nisa, takutnya Nisanya jadi trauma, akhirnya nunggu di luar aja sampe selesai. Sekali-kalinya ngintip ke kaca ruang tindakan, ayah lagi dijahit gusinya... aduhhh...kesian si Ayah, secara beliau ini sama jarum suntik aja kalo bisa menghindar, menghidar deh.. lha ini langsung dioprek mulutnya. Setelah 30 menitan, selesai deh gigi ayah dicabut. Sekarang giliran saya yang bayar ke kasir... Udah diperkirakan sih biayanya, tapi tetep aja nyesek pas geseknya... hihihi.. untungnya diganti sama kantor ayah.. meskipun mesti nunggu sebulan dulu..

Sebenernya saya juga udah bilang ke dokter Lita, kapan-kapan pengen juga diberesin giginya, soalnya kan saya ada rencana mau hamil lagi.. dan dokter Lita nyuruh rontgen dulu aja, biar tau tindakan apa aja yang akan dilakukan. Tadinya saya mah iya iya aja.. malah udah mau langsung rontgen saat itu juga. Tapi, secara gigi saya tuh parah suparah, dan liat billingnya ayah tadi bikin dada sesek, kayanya ngeberesin gigi sama dokter Lita is not a good idea deh.. gak kukuuuu bayarnya, hehehe.. bisa-bisa plafon asuransinya cuma cukup buat ngebenerin satu or dua gigi aja.. Lha yang lain gimana dwonggg... ke RS gigi di deket kantor aja deh... murah meriah... emang sih yang ngerjain koas, tapi beberapa bulan lalu saya pernah ke sana buat scalling, hasilnya tidak mengecewakan kok.. dan berdasarkan pengalaman temen-temen saya yang pernah perawatan berat di sana, so far gak ada masalah...

Oke deh... akhirnya diputuskan, kemaren saya udah ke RS Gigi dan Mulut deket kantor .. but i think yesterday was not my day... Dokter (baca: koas) yang ngerjain gigi saya tuh bukan yang waktu itu, tapi temennya.. Nah, si mbak koas yang ini sempet bikin saya dagdigdug.. kok kayanya gak yakin banget pas ngoprek gigi saya.. takutnya ada yang salah, gitu.. lama banget deh saya di sana, gigi udah diodet-odet gak keruan.. masih pula si koas ini dimaki-maki sama dosennya (OMG... saya udah lemes banget dengernya.. keep praying, hope that nothing happened to me...), karena menurut dosennya mbak koas ini terlalu cepat mengambil kesimpulan sebelum memeriksa dengan teliti, jadi dia melewatkan satu prosedur yang menurut dosennya penting, tapi udah bikin kesimpulan.. Wah.. saya sampe gak enak banget dengernya.. kesian juga sih sama mbak koas, tapi agak kesel juga gara-gara gigi ini jadi percobaan (yang kayanya) agak-agak gak sukses... hikss... Akhirnya pas dia bilang kalo harus dirujuk ke paviliun khusus (tempat drg spesialis praktek, tapi harganya mahalan) untuk perawatan syaraf, tanpa babibu lagi langsung iya aja.. udah pengen cepet-cepet kabur dari situ... sebelum kerusakan semakin parah, hihihi....

Pagi ini saya kembali mengunjungi RS Gilut, tapi langsung ke pavsus, ketemu drg yang udah punya ijazah (hihihi...), melanjutkan pemeriksaan kemaren.. Saya ditangani oleh drg spesialis konservasi gigi, drg Daru. Nah, kalo yang di sini emang tempatnya sebagaimana klinik gigi yang lain.. nyaman, trus masing-masing drg punya ruangan sendiri, ada asistennya (lha kalo yang kemaren kan satu ruangan gedeee.. kursi periksanya banyak, berjejer-jejer, ngerjainnya bareng-bareng gitu, trus ntar kalo ada yang ngerti nanya-nanya sebelahnya (ini yang bikin kuatir).. persis kaya bengkel kerja.. hehehe... Sama dokter Daru, cuma periksa-periksa sebentar, dan menurut beliau, saya gak harus menjalani perawatan syaraf, soalnya sebenernya kondisi gigi saya gak parah-parah amat... Jumat depan balik lagi dan bisa langsung tambal.. yihaaaa... senangnya hatikuuuu.... Sekalian aja bikin appointment buat ngeberesin sekalian gigi-gigi yang lain... oke, sip...sip... kayanya udah nemu tempat yang cocok deh...

Buat yang giginya belum terlanjur rusak.. ayo.. ayo.. kita jaga gigi kita baik-baik, jangan males gosok gigi sebelum tidur.. mencegah jauuuuuhhhhh lebih murah dari pada mengobati.... Gak percaya? contohnya udah ada nih... hehehe.... "KEEP YOUR TEETH HEALTHY....."

Selasa, 01 Juli 2008

Good News...

Baru aja buka webnya Klinik Morula, ada informasi seperti di bawah ini:
"To date pregnancy rates has been the most challenging task to every IVF program in the world and we have been able to meet International standard in this regards. Typically overall pregnancy rate has been summoned around 30-40% per cycle treatment. In 2007, our younger couples had a quite outstanding pregnancy rate per specific doctors. This data had suggested that women with age 35 years old or younger had a pregnancy rates of 58.8%, and by far this is quite a remarkable achievement!!!"
Note: Tabel statistiknya bisa dilihat langsung dari sumbernya di sini ya...

The Reproductive Process

Masih tetap bersumber dari sini, one of my favorite website ... semoga bermanfaat:

The Reproductive Process

The Female Reprodutive Process
Normal anatomy and regular menstrual cycles are key factors in establishing fertility in the female. The female reproductive system is entirely internal.
The vagina is the passage between the outside (vulva) and the inside (cervix, or opening to the uterus). The uterus is a muscular organ about the size and shape of a pear. This is where a fertilized egg attaches and develops. The uterus is lined with a rich nourishing membrane called the endometrium. The fallopian tubes extend from the top of the uterus and reach backwards and downwards towards the ovaries, which are the two small sacs that contain the woman’s eggs (a girl is born with about 400,000 eggs and will experience about 400 ovulations in her life time).
In addition to producing a mature egg each menstrual cycle, the ovaries produce the female hormones oestrogen and progesterone. Each month, only a single egg, or ovum, matures inside a follicle within an ovary. At midcycle, the egg is released from the follicle in a process called ovulation and picked up by the fallopian tubes. The outer-most ends of the tubes are flared and have fringed fingers called fimbria, which draw the egg into the tube after ovulation. It is at this end of the fallopian tube, near the ovary, that the egg awaits fertilization. The egg then travels down one of the fallopian tubes towards the uterus.
The Menstrual cycle refers to the maturation and release of and egg, and to the preparation of the uterus to receive and nurture an embryo. A typical cycle takes approximately 28 to 32 days and is divided into three phases:
  1. Follicular – Day 1 to about Day 13; on the first day of the cycle, when menstruation begin, the uterus shed its lining from the previous cycle,. The pituitary gland, located at the base of the brain, release two hormones, follicle-stimulating hormone (FSH) and letuinising hormone (LH), which stimulate the ovary and cause follicular growth. The developing follicle secretes the hormone oestrogen, and this changes the cervical mucus about the time of ovulation to receive and nourish sperm.
  2. Ovulatory – around Day 14; depending on the length of the cycle This phase begins when the level of LH surges, causing the follicle to rupture and the egg to be released from the ovary. The fimbriae of the fallopian tube sweep over the ovary and wave the egg into the fallopian tube
  3. Luteal – Day 15 to about Day 28; The luteal phase begins after ovulation. The follicle that produced the egg becomes a functioning gland called the corpus luteum, which produces oestrogen and progesterone, the two hormones necessary for maturing and nourishing the endometrium so that a fertilized egg may implant and develop.

If the egg meets with sperm in the fallopian tube, conception may occur. The fertilized egg travels through the tube towards the uterus with the help of tiny hair like projections called cilia, which sweep the egg along. Once inside the uterus, the embryo implants into the lining about 6 days after ovulation, and begins to produce a hormone called human chorionic gonadotrophin (hCG) telling the body that it is pregnant. The corpus luteum can sense the pregnancy and will continue to produce progesterone, thus preserving the uterine lining and pregnancy.

If fertilization does not occur, the ovum passes through the uterus, and the corpus luteum will cease to function on about Day 26. the uterine lining will then break down and be shed several days later, and the next menstrual period begins.


The Male Reproductive Process

The reproductive system of a men is both internal and external. Sperm are produced in the testes and pass into the coiled channels of the epididymis for storage and nourishment. The mature sperm then move into the vas deferens, a tube that connects the epididymis with the seminal vesicles, the two pouch-like glands behind the bladder that join each vas deferens and empty into the urethra. The seminal vesicles contribute about 90% of the fluid to the ejaculate.

Following ejaculation, semen forms a gel, which becomes liquid within 5 to 30 minutes. Sperm can like 48 to 72 hours within the female reproductive tract for fertilizing an egg. This is why sexual intercourse around the time of ovulation is often adequate for conception.


Several factors determine whether a man’s sperm can fertilise an egg:

  1. Volume of semen (usually 1.5 to 5 ml)
  2. Sperm count or density (usually higher than 20 million per ml)
  3. Sperm morphology (shape, usually more than 60% appear normal)
  4. Sperm motility (movement, usually more than 50% move rapidly forward)

Although sperm count is critical, sperm motility appears more important in determining the fertilizing capability of sperm. Despite a low sperm count, many men with high quality (viable and highly motile) sperm may still be fertile.

The production of sperm is regulated by three hormones:

  1. FSH (follicle stimulating hormone)
  2. LH (luteinising hormone)
  3. Testosterone

FSH and LH are the same hormones necessary for regulating the female’s reproductive functions. In the male, however, these hormones have different responsibilities, FSH is responsible for stimulating sperm production in the testicles, and LH stimulates the production of testosterone, the hormone associated with the male sex drive and sperm production.

Source: www.morulaivf.com